slider

Widget Slideshow

pesan beliau

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan diantara mereka ada yang gugur, diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya)
(Q.S. Al- Ahzab: 23)

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

surat Fatimah

Rabu, 14 November 2012



Tulisan berikut ini saya dapat dari internet sebagai renungkan kita semua dari kisah seorang hamba Allah di bumi anbiya' Iraq yang disiksa, dipelakukan dengan kejam tanpa belas kasihan di penjara Abu Gharib.
Walaupun kisah ini sudah lama tapi sebagai seorang muslim saya merinding dan meneteskan air mata saat membacanya. Mungkin kisah ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah penderitaan saudara-saudara kita yang sampai kepada kita. Dan saya yakin siapapun yang membaca surat ini akan merasakan getaran yang sama mengetahui penderitaan saudara muslimnya di zhalimi.
Semoga bermanfaat dan dapat mengobarkan semangat ummat Islam. Allahuakbar!

Fatimah adalah seorang saudara perempuan seorang mujahid yang terkenal di daerah Abu Gharib, yang berasal dari sebuah keluarga yang terkenal kebaikan dan ketaqwaannya. Suatu hari pasukan AS menyerbu rumahnya, dengan tujuan menangkap saudaranya. Namun karena mereka tidak dapat menemukannya, pasukan AS menangkap Fatimah dengan tujuan memaksa saudaranya menyerahkan diri.
Surat tulisan tangan Fatimah, baru-baru ini berhasil diseludupkan keluar dari penjara Abu Gharib. Surat ini menggambarkan penderitaan para tawanan wanita akibat perbuatan tentara AS. Segera surat ini tersebar dan menghebohkan kota Baghdad, mengirimkan gelombang yang akan terus berlanjut ke seluruh Iraq. Mafkarat al-Islam berhasil mendapatkan salinan surat tersebut.

* * *

Bismillahirrahmanirrahiim.
(Say He is God the One; God the Source [of everything]; Not has He fathered, nor has He been fathered; nor is anything comparable to Him. [Quran, Surat 112 *al-Ikhlas*])
Saya menulis surat Al-Ikhlas ini karena mempunyai arti yang mendalam bagi saya, dan menimbulkan getaran di hati orang-orang yang beriman.
Saudaraku mujahidin di jalan Allah. Apa yang dapat kukatakan padamu? Saya katakan, rahim-rahim kami telah terisi dengan janin akibat perkosaan yang dilakukan keturunan kera dan babi itu.
Mereka telah menodai tubuh kami, meludahi muka kami, dan merobek-robek Al-Quran untuk digantungkan ke leher-leher kami. Allahu Akbar. Tidakkah kau mengerti tentang kejadian yang menimpa kami? Betulkah kau tidak tahu ini terjadi pada kami?. Kami saudaramu, dan Allah akan meminta tanggungjawabmu tentang kejadian ini kelak. Demi Allah, tidak semalam pun kami lewatkan di penjara ini kecuali mereka mendatangi salah satu dari kami untuk melampiaskan nafsu setannya. Padahal kami selalu menjaga kehormatan kami karena takut kepada Allah. Takutlah pada Allah! Bunuhlah kami bersama mereka! Hancurkan mereka bersama kami! Jangan biarkan kami di sini agar mereka bisa bersenang-senang memperkosa kami, sesungguhnya ini adalah sebuah perbuatan dosa besar di sisi Allah. Takutlah pada Allah akan urusan kami.
Biarkan (jangan serang) tank dan pesawat mereka. Datanglah pada kami di penjara Abu Gharib. Saya saudaramu kerana Allah. Mereka memperkosa saya lebih dari sembilan kali dalam satu hari. Bisakah kau bayangkan?
Bayangkan salah satu saudaramu diperkosa. Bersama saya ada 13 gadis, semuanya belum menikah. Semuanya telah diperkosa didepan mata kami semua. Mereka melarang kami untuk sholat. Mereka mengambil pakaian kami, dan membiarkan kami telanjang.
Saat surat ini saya tulis, seorang diantara kami telah bunuh diri setelah diperkosa beramai-ramai. Seorang tentara memukulnya di dada dan paha setelah memperkosanya, lalu menyiksanya. Gadis itu kemudian bunuh diri dengan memukulkan kepalanya ke tembok penjara, kerana dia sudah tidak sanggup menerima ini.
Meskipun bunuh diri dilarang oleh Islam, saya memaklumi perbuatannya. Saya hanya berharap, semoga Allah mengampuninya, sesungguhnya Dia Maha mengampun. Saudaraku, saya katakan padamu lagi, takutlah pada Allah. Hancurkan kami bersama para tentara itu, agar kami bisa beristirahat dalam damai. Tolonglah kami, tolonglah kami, tolonglah kami. Waa Mutasimah!.
Surat ini telah berakhir, namun penderitaan penulisnya dan para muslimah belum berakhir. Sebarkan agar semuanya bisa mengetahui keadaan ini. Wassalam.
* * *

Ya Allah selamatkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin yang lemah dimanapun berada.
Sayangi dan kasihilah mereka dan keluarkanlah mereka dari keadaan sempit yang mereka alami saat ini.
Ya Allah kuatkanlah iman mereka dan terimalah mereka sebagai syuhada.
Tiada daya dan kekuatan kecuali dariMu. Amin..

Wanita itu indah dengan rasa malunya

Kamis, 08 November 2012



Sifat malu merupakan aset berharga wanita mukmin yang mampu menolongnya menjaga kehormatan dirinya, martabat, dan statusnya. Para istri shalihah adalah para muslimah yang memiliki sifat malu dalam akhlak, berpakaian, tindak-tanduk, obrolan, interaksi, dan budi pekerti. Sifat malu positif yang dimiliki seorang istri shalihah membuatnya senantiasa patuh pada aturan berpakaian Islami, baik itu jilbab, cadar, ataupun burqa. Dia tidak akan pernah mau mengenakan pakaian yang transparan, ketat, sama dengan pakaian pria, dipakai untuk niatan pamer dan berlagak, lalu memakai wewangian dan menggoda.
Bagaimana bisa seorang wanita muslim mengabaikan aturan-aturan Allah yang ditetapkan baginya. Dia akan menanggung dosa apabila menyepelekan aturan-aturan tersebut. Allah SWT mengharuskannya untuk menuulurkan kain kerudung menutupi dadanya, sebagaimana ditegaskan-Nya di surat An-Nur ayat 31.
Allah juga berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59).
…Bagaimana bisa seorang wanita muslim mengabaikan aturan-aturan Allah yang ditetapkan baginya. Dia akan menanggung dosa apabila menyepelekan aturan-aturan tersebut…
Maksud dari jilbab di ayat tadi adalah sejenis baju kurung yang lapang, tidak ketat dan transparan, yang menutup kepala, muka, dan dada. Selain itu, Allah juga menyatakan:
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Ahzab: 32-33)

Dengan demikian, bagaimana bisa seorang muslimah mengklaim dirinya sebagai wanita yang baik, sementara di waktu yang bersamaan dia mempertontonkan pesona, kecantikan, dan keindahannya kepada setiap laki-laki untuk menarik perhatian mereka? Dia seharusnya menyimpan kemolekannya hanya untuk sang suami. Rasulullah menegaskan, “Sifat malu dan perasaan takut tidak dapat dipisahkan. Jika salah satunya hilang, maka yang lainnya pun akan menghilang.”

Dari hadits tadi dapat ditarik kesimpulan bahwa wanita muslimah yang mengumbar kecantikannya adalah seorang yang tidak memiliki rasa malu. Jika dia tidak memiliki rasa malu, maka dipastikan tidak memiliki karakteristik Islam yang esensial. Rasul bersabda lagi, “Setiap agama memiliki etika moral khusus, dan sifat malu merupakan etika moral yang khusus di dalam Islam.”

…wanita muslimah yang mengumbar kecantikannya adalah seorang yang tidak memiliki rasa malu. Jika dia tidak memiliki rasa malu, maka dipastikan tidak memiliki karakteristik Islam yang esensial…
Selain itu, sifat malu seorang wanita beriman mengharuskannya untuk menundukkan pandangannya. Di dalam sebuah hadits Qudsi, melalui lisan Nabi Muhammad, Allah menyatakan, “Pandangan (terlarang) merupakan salah satu anak panah beracun Iblis. Seseorang yang menghindari hal itu karena takut kepada-Ku, maka akan diberi keimanan yaitu dia merasakan rasa manis (keindahan) di hatinya.”
Memberikan tali kendali yang bebas kepada pandangan mata bisa mendatangkan berbagai kerusakan. Sebagaimana pandangan terlarang adalah perangkap yang ditebarkan setan. Oleh karena itu, Rasulullah berkata kepada Ummu Salamah dan Maimunah ketika keduanya menatap Abdullah Ummi Maktum yang buta, “Apakah engkau buta? Engkau tidak melihatnya?”
…setiap wanita muslim harus mengejawantahkan sifat malu positifnya…
Tak hanya itu, sifat malu yang dimiliki seorang wanita beriman juga direfleksikan dengan caranya berbicara, beretika, bergerak, berjalan, dan lain sebagainya. Maka setiap wanita muslim harus mengejawantahkan sifat malu positifnya. Contoh terbaik dari sifat malu yang dimiliki wanita beriman adalah dua orang wanita yang bertemu Nabi Musa di mata air Madyan.
Allah berfirman mengenai hal tersebut, “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat  begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” (Al-Qashash: 23).

Rasa malu telah menggiring keduanya untuk tidak menggabungkan ternak keduanya dengan ternak orang lain. Keduanya juga memberi contoh bahwa wanita tetap tinggal di rumah, kecuali jika ada urusan mendesak, seperti keduanya yang terpaksa keluar rumah untuk memberi minum ternak, karena ayahnya sudah ringkih. [voa-islam.com]

menulis di atas pasir

Rabu, 07 November 2012

Kisah tentang dua  orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :
"Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menampar Pipiku."

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang kena tamper tersebut terus berenang untuk menyejukkan hatinya yang galau. Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah ia oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu :
"Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menyelamatkan Nyawaku."

Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?"  Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila dalam antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu."
***


"Lihatlah, Kita  diciptakan untuk saling berbeda, tapi haruskah kita selalu mengikuti perbedaan? buatlah perbedaan sebagai warna dalam hidup anda agar lebih indah. Mulailah  men coba untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu..." – wiseman-

"Marilah kita belajar menulis diatas pasir..!"  * Mawar mekar *

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu

Selasa, 06 November 2012



Ada salah seorang sahabat nabi bernama Ibnu Ummi Maktum. Sahabat ini memiliki kekurangan fisik. Beliau buta. Namun semangatnya untuk menuntut ilmu agama sangat tinggi. Ibnu Ummi Maktumlah yang menjadi salah satu asbabun Nuzul surat ‘Abasa, yang berarti bermuka masam. Allah menegur Rasulullah yang bermuka masam pada sahabat yang satu ini.

Suatu ketika Ibnu Ummi Maktum mengikuti pengajian Rasulullah. Rasulullah menyampaikan kewajiban seorang muslim yang mendengar azan untuk segera melaksanakan sholat. Ibnu Ummi Maktum memberanikan bertanya bagaimana dengan dirinya yang memiliki kondisi fisik seperti itu.
“Wahai Rasulullah, apakah saya juga wajib meski saya tidak bisa melihat?”. Rasul menjawab, “Apakah kamu mendengar azan?”. “Ya”, jawab Ibnu Ummi Maktum. Kemudian Rasulullah memerintahkannya untuk tetap ke masjid meski dalam keadaan merangkak.

Semangat tinggi Ibnu Ummi Maktum membuatnya rajin ke masjid. Hingga pada suatu subuh ketika berangkat ke masjid, ia tersandung batu dan terjatuh hingga kakinya berdarah. Namun tetap melanjutkan perjalanannya ke masjid, demi memenuhi panggilan azan. Mungkin berbeda dengan kita, yang hanya dingin , kantuk, atau malas menjadi alasan untuk tidak ke masjid.

Subuh berikutnya ada seorang pemuda yang menuntunya ke masjid sehingga Ibnu Ummi Maktum sampai ke masjid dengan selamat. Tidak terjatuh lagi. Hingga beberapa hari berikutnya selalu begitu. Ibnu Ummi Maktum dituntun ke masjid oleh seorang pemuda yang baik hati ini.
“Wahai pemuda, siapakah namamu? Aku ingin mengetahuinya agar aku bisa mendoakanmu kepada Allah”
“Tidak perlu lah, kau mengetahui namaku”
“Kalau begitu, besok lagi tak usahlah kau menuntunku ke masjid jika memang kau benar-benar tidak mau menyebutkan siapa namamu”
Akhirnya pemuda itu memperkenalkan diri pada Ibnu Ummi Maktum. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah bahwa aku ini sebenarnya adalah iblis”
“Bagaimana bisa? Bukankah engkau seharusnya mencegahku pergi ke masjid? Bukannya malah menuntunku ke masjid? Aneh kau” Ibnu Ummi Maktum penasaran.

Pemuda itu akhirnya menjawab pertanyaan Ibnu Ummi Maktum. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, beberapa hari yang lalu ketika kau berangkat ke masjid kemudian kau tersandung dan terjatuh hingga kakimu berdarah sesungguhnya Allah mengampuni separuh dosa-dosamu. Aku khawatir kalau hari berikutnya kau seperti itu lagi, maka dosamu akan habis. Maka sia-sialah kami menggodamu.

Kisah tadi memberi pelajaran kepada kita bahwa Iblis tidak akan pernah berhenti menggoda dan menyesatkan manusia. Satu-satunya perintah untuk memusuhi dalam Al Quran adalah memusuhi iblis/setan.
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS Fatir : 6)

Maka marilah kita sering mengucapkan ta’awudh. A’udzubillahi minasy Syaithonirrojim. Namun itu saja tidak cukup. Selain berdoa, dibutuhkan juga usaha untuk tidak mengikuti godaan syaitan.
Semoga bermanfaat.

Ghuroba

Rasulullah SAW bersabda :
“بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء” “
Islam datang mula pertama dalam keadaan asing, dan dia akan kembali asing sebagaimana keadaan mula pertamanya. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.
” Syekh Abdul Majiid Abdul Majiid hafizhahullah, dalam kitabnya “Manhaj Al Ghuroba Fii Muwaajihatu Al Jaahiliyyatu” (Metode Al Ghuroba Menghadapi Kejahiliyahan) menjelaskan empat ciri dan karateristik pokok dari kelompok Al Ghuroba, yang berada di tengah-tengah masyarakat jahiliyah.
Berikut uraian beliau :
1. Ghuroba’ adalah orang-orang yang terusir dari kabilahnya/tempat tinggalnya.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa nabi SAW bersabda: “Islam bermula dalam kondisi yang asing, ia pun akan kembali dalam kondisi yang asing sebagaimana ia bermula. Maka bergembiralah bagi orang yang terasing”, lalu sahabat bertanya: “Siapakah orang yang terasing itu wahai rosulullah?”, beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang terusir dari kabilah-kabilahnya” (Musnad Ahmad 3596).
Jika kondisi sudah demikian, maka seorang mukmin akan mengalami sebagaimana pada zaman nabi SAW, karena seorang yang terusir dari kabilahnya ia akan menjadi seorang muhajir yang terpisah dari keluarganya, hartanya, dan juga tanah tempat tinggalnya.
2.Mereka terasing dan mereka berpegang teguh dengan dien dan petunjuk salafushshalih. Ibnu Hajar dalam Fathul Baari dalam menjelaskan hadits nomor 3377 berhujjah bahwa sebab generasi pertama disebut-sebut sebagai generasi terbaik adalah karena mereka dahulu kala merupakan orang-orang yang terasing dengan keimanan mereka yang berada di tengah-tengah banyaknya orang kafir, dan mereka bersabar atas siksaan orang kafir dan berpegang teguh dengan dien.
3.Kelompok yang menang yang ditolong (al-manshuurah) yang diantara syaratnya adalah berperang dan tidak akan musnah. Nabi SAW banyak menyebutkan tentang sifat mereka, diantaranya beliau bersabda:
“Akan terus eksis sekelompok dari umatku yang berperang diatas kebenaran (al-haq), yang menang atas setiap orang yang menentang mereka, hingga pada akhir generasi mereka akan membunuh Dajjal” (Musnad Ahmad 19073).
Dari hadits ini dapat dipahami bahwa sifat thaifah manshurah antara lain:
a) berperang di jalan Allah untuk memenangkan dien,
b) kelompok yang akan terus eksis selamanya,
c) mereka berada di atas kebenaran (al-haq) yang berarti mereka mengikut salafushshalih yang berpetunjuk dengan Al-Quran dan As-Sunnah,
d) mereka adalah kelompok yang menang yang ditolong.
4.Mereka memiliki ‘azam yang kokoh, jiwa yang jujur, dan menepati janji. Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 23:
“Diantara orang-orang yang beriman itu terdapat orang-orang yang jujur dengan apa yang mereka janjikan kepada Allah ta’ala, maka diantara mereka terdapat orang yang telah gugur dan diantara mereka pula ada yang masih menanti-nanti, dan tiadalah mereka sedikitpun mengubah janji mereka kepada Allah ta’ala”.


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. tinta dua dimensi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger